Meta Model Distortion (ketidaksesuaian)

Meta Model Distortion (ketidaksesuaian)

Meta Model Distortion dimana sebuah informasi MENYIMPANG pemaknaannya, apa yang disampaikan berpotensi menciptakan makna tersendiri yang lain meski kenyataannya mungkin tidak begitu

Ketidakjelasan dan penyimpangan makna bisa menyebabkan kebingungan yang ujungnya pada gagalnya komunikasi karena si penyampai dan si penerima mendapati makna yang berbeda.

Untuk itulah maka perlu bagi si penerima menanyakan kejelasan maksud dari kalimat yang disampaikan oleh si pembicara.

Nominalization

Informasi yang disampaikan seolah membuat sebuah proses perilaku menjadi seperti ‘benda’ mati yang kaku. Dalam pembedaan atau normalization perlu diungkap:

AKTOR dan AKSI. Pembedaan dilakukan oleh si pembicara agar menjadi mudah dimengerti, tetapi sejatinya kata-kata ini bukan benda yang bisa disentuh atau dikantongi; Kata abstrak dan berbentuk konsep maka perlu diungkap agar menjadi jelas, siapa aktor dan tindakannya.

Siapa pelakunya? Bagaimana aksi atau tindakan yang dimaksud dan apa dampaknya?

  • Hubungan kami semakin hari semakin memburuk. [Buruk? Maksudnya memburuk?]
  • Kebahagiaannya semakin berkurang sejak dia pergi. [Bahagia=Kebahagiaan, Perasaan bahagia?]
  • Ini membingungkan! [Bingung = Membingungkan, Maksudnya?]
  • Kesombongannya semakin terlihat saat dia dipromosikan. [Sombong = kesombongan]
  • Kekerasan sikapnya menjadikan dirinya semakin dijauhi banyak orang. [Keras = Kekerasan sikap?]

Bertanya demikian akan membuat kita keluar dari unconscious untuk kemudian secara sadar mengevaluasi kembali proses yang sebenarnya terjadi.

Mind Reading

Informasi yang disampaikan seolah dengan membaca pikiran atau persepsi orang lain.

  • Anda membuat saya malu. [Apakah yang dilakukannya memalukan buat orang lain?]
  • Maaf telah membuat Anda kecewa. [Kecewa, apa nya? Bagaimana?]
  • Dia pikir dengan ditutup pintunya, kerahasiaan menjadi terjamin? [Menurut Anda? Atau?]
  • Anda segar sekali? Wow? [Apakah begitu?]
  • Anda sedang banyak masalah? [Kata siapa?]
  • Orang Jepang sedang sibuk, pusing dan banyak masalah. [Bagaimana? Maksudmu?]

Tanpa Meta Model, pernyataan di atas sama sekali tidak mencerminkan apa yang sebenarnya ada dalam pikiran dan perasaan orang lain, melainkan hanya mencerminkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita sendiri.

Sebab & Akibat (cause & effect)

Informasi yang menyiratkan ada keterhubungan dari suatu hal yang menyebabkan hal lain terjadi,Menyakini bahwa sesuatu terjadi oleh hukum sebab akibat.

  • Dia membuat saya marah. [Bagaimana ceritanya?]
  • Dia menjadi loyo setelah bertemu dengan atasannya. [Koq bisa? Apa sebabnya?]
  • Ketika dia tersenyum, saya malah menjadi bingung. [Apa sebabnya?]
  • Saya merasa bersalah telah membuatnya sakit. [Apa yang Anda lakukan?]
  • Suaranya hilang setelah ikut OB. [Bagaimana bisa hilang?]
  • Mesin buatan China itu gampang rusak. [Bagian mana yang gampang rusak? Sebabnya?]
  • Kalau panas pasti rusak. [Tepatnya apa sebabnya?]

Respon seperti akan mengajak lawan bicara kita untuk memperluas kerangka berpikir mereka sekaligus memberdayakannya guna bertanggung jawab terhadap pikiran, perasaan, dan respon mereka sendiri.

Complex of Equivalence

Informasi yang disampaikan dengan melibatkan dua hal yang seolah ada hubungannya padahal keduanya belum tentu memiliki keterhubungan satu sama lain.

Contoh: “Dia tidak pernah memberi saya bunga lagi, dia tidak mencintai saya lagi.”

Analisa: Apa hubungannya antara memberi bunga dengan cinta? Apakah cinta harus selalu disimbolkan dengan bunga? Bagaimana jika ia menggantinya dengan hal lain kali ini?

Wajahnya tampak memerah. Dia pasti sedang marah.

Kamu datang terlambat. Kamu tidak peduli dengan saya.

Secara lebih terstruktur, kalimat di atas bisa dituliskan dengan rumus sebagai berikut:

Wajah memerah   = marah

Datang terlambat = tidak peduli

Benarkah demikian? Apakah pasti seseorang yang wajahnya memerah pasti sedang marah? Apakah pasti pula datang terlambat berarti ketidakpedulian? Tentu tidak, bukan?

Menghadapi model seperti ini, kita bisa melakukan Meta Model dengan bertanya:

  • Bagaimana persisnya datang terlambat bisa berarti tidak peduli?
  • Adakah orang yang wajahnya memerah tapi tidak sedang marah?

Pertanyaan seperti ini akan menggiring kita untuk memperluas khasanah pemikiran kita akan makna dari suatu kejadian.

Saya percaya bahwa seseorang yang tidak berani membuat kontak mata berarti dia memiliki sesuatu yang disembunyikan.

  • Bisa jadi ya memang ada yang disembunyikan bisa jadi dia malu?
  • Atas dasar apa Anda berpendapat dia menyembunyikan sesuatu?
  • Apakah Anda tahu hal itu atau hanya dugaan saja?
  • Boleh ceritakan apa pendapat Anda?

sampai saat ini kita paham dari pernyataan yang kita sampaikan teryata bisa saja bukan maksud dan tujuan yang sebenarnya Meta Model Distortion

sangat asik kan belajar NLP ?

0 Shares
NLP Coach

Jaim Wong,CHt,CI.NLP,NCA,HRMNLP Seorang Praktisi dan Trainer yang telah banyak mendapatkan Manfaat dari NLP dan Ingin berbagi pengalaman dengan anda